CSS Pseudo-Class & Pseudo-Element

Perbedaan Mendasar

  • Pseudo-Class menggunakan satu titik dua (:) dan menargetkan state atau kondisi dari elemen
  • Pseudo-Element menggunakan dua titik dua (::) dan menargetkan bagian spesifik dari elemen

CSS Pseudo-Class

Apa itu Pseudo-Class?

Pseudo-class adalah kata kunci yang ditambahkan ke selector untuk menentukan state khusus dari elemen yang dipilih. Pseudo-class memungkinkan kita memberikan style berdasarkan kondisi atau interaksi pengguna.

Syntax Dasar

selector:pseudo-class {
  property: value;
}

Pseudo-Class yang Paling Umum

1. :hover – Saat Mouse Di Atas Elemen

Digunakan untuk memberikan efek saat kursor mouse berada di atas elemen.

Contoh:

button:hover {
  background-color: #0056b3;
  transform: scale(1.05);
  cursor: pointer;
}

Penjelasan: Ketika pengguna mengarahkan mouse ke tombol, warna latar belakang berubah menjadi biru gelap dan ukuran tombol sedikit membesar (105% dari ukuran normal), menciptakan efek interaktif yang responsif.

2. :active – Saat Elemen Diklik

Mengatur style saat elemen sedang dalam kondisi aktif (sedang diklik).

Contoh:

button:active {
  background-color: #003d82;
  transform: scale(0.98);
}

Penjelasan: Saat tombol ditekan, warna menjadi lebih gelap dan ukuran sedikit mengecil, memberikan feedback visual bahwa tombol sedang ditekan.

3. :focus – Saat Elemen Mendapat Focus

Berguna untuk elemen form yang dapat menerima input keyboard.

Contoh:

input:focus {
  border: 2px solid #4CAF50;
  outline: none;
  box-shadow: 0 0 5px rgba(76, 175, 80, 0.5);
}

Penjelasan: Ketika input field diklik atau dipilih dengan keyboard (Tab), border berubah menjadi hijau dengan shadow untuk menunjukkan elemen mana yang sedang aktif.

4. :visited – Link yang Sudah Dikunjungi

Khusus untuk elemen <a>, mengubah tampilan link yang sudah pernah dikunjungi.

Contoh:

a:visited {
  color: purple;
  text-decoration: line-through;
}

Penjelasan: Link yang sudah dikunjungi akan berubah warna menjadi ungu dan memiliki garis coret, membantu pengguna mengidentifikasi konten yang sudah mereka lihat.

5. :first-child dan :last-child

Menargetkan elemen pertama atau terakhir dari parent-nya.

Contoh:

li:first-child {
  font-weight: bold;
  color: #e74c3c;
}

li:last-child {
  border-bottom: none;
  margin-bottom: 0;
}

Penjelasan: Item pertama dalam list akan tebal dan berwarna merah, sementara item terakhir tidak memiliki border bawah, menciptakan hirarki visual yang jelas.

6. :nth-child() – Pola Seleksi Fleksibel

Memilih elemen berdasarkan posisi dengan pola matematika.

Contoh:

/* Baris genap */
tr:nth-child(even) {
  background-color: #f2f2f2;
}

/* Baris ganjil */
tr:nth-child(odd) {
  background-color: #ffffff;
}

/* Setiap elemen ke-3 */
div:nth-child(3n) {
  border-left: 4px solid #3498db;
}

Penjelasan:

  • even dan odd menciptakan efek zebra striping pada tabel, meningkatkan keterbacaan
  • 3n memilih setiap elemen ketiga (3, 6, 9, dst), berguna untuk layout grid dengan pola khusus

7. :not() – Negasi Selector

Memilih semua elemen kecuali yang cocok dengan selector di dalam kurung.

Contoh:

button:not(.disabled) {
  cursor: pointer;
  opacity: 1;
}

p:not(.highlight) {
  color: #666;
}

Penjelasan: Semua tombol akan memiliki cursor pointer kecuali yang memiliki class disabled. Semua paragraf akan berwarna abu-abu kecuali yang memiliki class highlight.

8. :disabled dan :enabled

Menargetkan elemen form berdasarkan status enabled/disabled-nya.

Contoh:

input:disabled {
  background-color: #e0e0e0;
  cursor: not-allowed;
  opacity: 0.6;
}

input:enabled {
  background-color: white;
}

Penjelasan: Input yang disabled akan terlihat abu-abu, redup, dan cursor berubah menjadi tanda “tidak diizinkan”, memberikan indikasi visual yang jelas bahwa field tidak bisa diisi.

9. :checked – Untuk Checkbox dan Radio Button

Contoh:

input[type="checkbox"]:checked + label {
  color: green;
  font-weight: bold;
}

input[type="radio"]:checked {
  outline: 2px solid #4CAF50;
}

Penjelasan: Ketika checkbox dicentang, label di sebelahnya akan berubah menjadi hijau dan tebal. Menggunakan selector + (adjacent sibling) untuk menargetkan label yang langsung mengikuti checkbox.


CSS Pseudo-Element

Apa itu Pseudo-Element?

Pseudo-element memungkinkan kita untuk menambahkan style pada bagian tertentu dari elemen atau menambahkan konten dekoratif tanpa menambahkan markup HTML.

Syntax Dasar

selector::pseudo-element {
  property: value;
}

Catatan: Pseudo-element modern menggunakan dua titik dua (::), meskipun sintaks lama dengan satu titik dua (:) masih didukung untuk kompatibilitas.

Pseudo-Element yang Paling Umum

1. ::before – Menambah Konten Sebelum Elemen

Menambahkan konten dekoratif di awal elemen.

Contoh:

.penting::before {
  content: "⚠️ ";
  color: #ff9800;
  font-weight: bold;
}

.quote::before {
  content: """;
  font-size: 3em;
  color: #95a5a6;
  position: absolute;
  left: -20px;
  top: -10px;
}

Penjelasan:

  • Kelas .penting akan mendapat ikon peringatan di awal teksnya
  • Kelas .quote mendapat tanda kutip besar sebagai dekorasi, diposisikan secara absolute untuk efek visual yang menarik

2. ::after – Menambah Konten Setelah Elemen

Menambahkan konten dekoratif di akhir elemen.

Contoh:

.external-link::after {
  content: " 🔗";
  font-size: 0.8em;
  margin-left: 5px;
}

.clearfix::after {
  content: "";
  display: table;
  clear: both;
}

Penjelasan:

  • Link eksternal mendapat ikon link kecil di akhir
  • Teknik clearfix menggunakan ::after dengan content kosong untuk mengatasi masalah float collapse pada layout

3. ::first-letter – Huruf Pertama

Memberikan style khusus pada huruf pertama dari elemen.

Contoh:

p::first-letter {
  font-size: 3em;
  font-weight: bold;
  color: #e74c3c;
  float: left;
  margin-right: 10px;
  line-height: 1;
}

Penjelasan: Menciptakan efek “drop cap” seperti di majalah atau buku, di mana huruf pertama paragraf berukuran besar dan menonjol, memberikan sentuhan editorial yang elegan.

4. ::first-line – Baris Pertama

Memberikan style khusus pada baris pertama teks.

Contoh:

article p::first-line {
  font-weight: bold;
  font-variant: small-caps;
  color: #2c3e50;
  letter-spacing: 1px;
}

Penjelasan: Baris pertama paragraf dalam artikel akan tebal, menggunakan small caps (huruf kecil berbentuk kapital), memberikan penekanan pada pembuka paragraf.

5. ::selection – Teks yang Diseleksi

Mengatur tampilan saat teks disorot/dipilih oleh pengguna.

Contoh:

::selection {
  background-color: #3498db;
  color: white;
}

::-moz-selection {
  background-color: #3498db;
  color: white;
}

Penjelasan: Ketika pengguna menyorot teks dengan mouse, latar belakang akan berwarna biru dan teks putih, menggantikan warna default browser. -moz-selection diperlukan untuk Firefox versi lama.

6. ::placeholder – Placeholder pada Input

Mengatur style placeholder text pada form input.

Contoh:

input::placeholder {
  color: #95a5a6;
  font-style: italic;
  opacity: 0.7;
}

textarea::placeholder {
  color: #bdc3c7;
  font-size: 0.9em;
}

Penjelasan: Placeholder text akan berwarna abu-abu, italic, dan sedikit transparan, membedakan dengan teks yang sebenarnya diketik pengguna.


Kombinasi Pseudo-Class dan Pseudo-Element

Kita bisa menggabungkan pseudo-class dengan pseudo-element untuk kontrol yang lebih spesifik.

Contoh:

/* Before muncul saat hover */
a:hover::before {
  content: "👉 ";
}

/* First letter berubah saat paragraph di-hover */
p:hover::first-letter {
  color: #e74c3c;
  font-size: 4em;
}

/* Placeholder berubah saat input focus */
input:focus::placeholder {
  opacity: 0.3;
  transform: translateX(10px);
}

Penjelasan: Kombinasi ini memberikan interaktivitas lebih kompleks. Misalnya, ikon tangan muncul saat link di-hover, huruf pertama membesar saat paragraf di-hover, dan placeholder memudar saat input mendapat fokus.


Tips dan Best Practices

1. Gunakan Syntax Modern

Selalu gunakan :: untuk pseudo-element (bukan :) untuk kejelasan kode.

2. Property content Wajib untuk ::before dan ::after

Pseudo-element ::before dan ::after tidak akan muncul tanpa property content, bahkan jika kosong.

/* Benar */
.element::before {
  content: "";
  /* style lainnya */
}

/* Salah - tidak akan muncul */
.element::before {
  background: red;
  width: 10px;
}

3. Kombinasikan dengan Transition untuk Animasi Smooth

button {
  transition: all 0.3s ease;
}

button:hover {
  background-color: blue;
}

4. Perhatikan Spesifisitas

Pseudo-class dan pseudo-element menambah spesifisitas selector, sehingga bisa override style lain.

5. Aksesibilitas

Konten yang ditambahkan via ::before dan ::after tidak terbaca oleh screen reader. Jangan gunakan untuk konten penting, hanya untuk dekorasi.

6. Browser Compatibility

Beberapa pseudo-class/element modern mungkin perlu vendor prefix untuk browser lama:

input::-webkit-input-placeholder { /* Chrome, Safari */
  color: #999;
}
input::-moz-placeholder { /* Firefox 19+ */
  color: #999;
}
input:-ms-input-placeholder { /* IE 10+ */
  color: #999;
}

Kesimpulan

Pseudo-class dan pseudo-element adalah tools dalam CSS yang memungkinkan kita:

  • Membuat interaksi user yang lebih baik dengan :hover, :focus, :active
  • Menambahkan konten dekoratif tanpa markup HTML tambahan dengan ::before dan ::after
  • Styling elemen berdasarkan posisi dengan :nth-child(), :first-child, :last-child
  • Memberikan feedback visual untuk form dengan :valid, :invalid, :checked
  • Styling bagian spesifik teks dengan ::first-letter, ::first-line, ::selection

Dengan menguasai konsep ini, Anda dapat membuat interface yang lebih interaktif, menarik, dan professional tanpa perlu JavaScript atau markup HTML yang kompleks.